Selasa, 29 Desember 2009

Qardhawi : Saya tidak mengingkari umat Nashroni merayakan hari Raya mereka

Dr  Yusuf Al-Qaradhawi – Ketua Persatuan Ulama Muslimin Internasional – mengatakan bahwasanya ia tidak mengingkari umat nashori dalam merayakan hari  Natal maupun perayaan-perayaan agama mereka yang lainnya. Namun sesungguhnya yang ia sayangkan dan ingkari adalah ; sikap berlebihan yang muncul dari sebagian kaum muslimin dalam perayaan hari Natal ini. Qardhawi melandaskan sikapnya tersebut atas dasar “ penjagaan identitas keislaman’, khususnya di negara-negara islam yang didalamnya tidak terdapat minoritas nashrani. 
Qardhawi mengingatkan bahwa dia mengeluarkan fatwa yang membolehkan ucapan selamat kepada non-muslim dalam hari raya mereka, dimana hal itu bertentangan dengan fatwa syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang mengharamkan hal tersebut, yang kemudian juga menjadi  rujukan ulama negara-negara islam.

Qardhawi menyatakan hal di atas sebagai bentuk tanggapan atas beberapa media massa –khususnya majalah jerman DER SPIEGEL- yang menuduhnya melakukan “ Provokasi anti Kristen” sebagaimana mereka mengistilahkannya. 

Dalam program diskusi “ Syariah wal Hayah” yang disiarkan Stasiun TV Al-Jazeera hari Ahad, 28 Desember 2009 yang lalu, Qardhawi mengomentari tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada dirinya dengan mengatakan : “ Amat disayangkan, ini dijadikan amunisi bagi sebagian kaum barat untuk menyerang Islam dan aktifis-aktifisnya. Mereka tidak pernah melewatkan satu peluangpun kecuali meletakkan racun mereka sebagaimana dalam permasalahan ini “
Qardhawi menambahkan : “ Sudah sama-sama diketahui, bahwa saya dikenal sebagai da’I yang toleran terhadap seluruh agama, dan kitab-kitab yang saya tulis menunjukkan itu semua. Bahkan dalam kitab yang terakhir saya terbitkan dalam masalah ini -yaitu Fiqhul Jihad -, saya tetap menekankan kebolehan mengucapkan selamat kepada umat nashrani dalam hari raya mereka”

Ucapan selamat pada umat Nashrani

Qardhawi menjelaskan : “ saya tidak mengingkari umat nashrani di negeri mereka merayakan hari raya mereka, bahkan saya mempunyai fatwa yeng membolehkan ucapan selamat kepada umat nashrani dalam hari raya Natal, dimana ini bertentangan dengan apa yang difatwakan oleh Ibnu Taimiyah yang mengatakan ketidak bolehan hal tersebut, dan banyak ulama di Saudi dan negara-negara teluk yang merujuk pada fatwa (haram) tersebut”

Qardhawi merincikan bahwa kebolehan ucapan selamat dalam fatwanya itu berlaku pada tetangga atau sahabat non muslim, karena hal tersebut termasuk dalam pintu kebajikan yang tidak dilarang oleh Allah SWT dalam ayat Mumtahanah 8 : Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu Karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.

Meskipun demikian, beliau tetap mengingkari sikap berlebihan sebagian kaum muslimin dalam perayaan hari raya non muslim. Qardhawi menyatakan : “ akan tetapi saya telah memperingatkan dalam salah satu khutbah jumat saya sekitar dua pekan sebelumnya, bahwasanya sebagain kaum muslimin bersikap berlebihan dalam perayaan Natal, padahal mereka bukanlah umat kristen, dan masyarakat kita bukanlah masyarakat kristen, dan (anehnya) mereka tidak melakukan hal yang sama saat Iedul Fithri dan Iedul Adha .. “

Qardhawi melanjutkan : “karena itulah saya mengingkari hal tersebut, khususnya setelah Swiss melarang adzan yang tidak mengganggu seorangpun, begitu pula Perancis yang melakukan survei yang memunculkan angka 40% dari orang perancis mengatakan : seharusnya yang dilarang adalah masjid bukan adzan saja !! . Inilah yang mereka lakukan , sementara kita di negeri kita ikut merayakan hari Natal dengan batas-batas tertentu ..

Identitas dan Tampilan Islami

Karena berbagai hal itulah, Dr Qardhawi memandang perlunya penjagaan atas identitas keislaman, karena sikap berlebihan akan merusak segala sesuatunya. Begitu pula sikap berlebihan dalam perayaan Natal, merusak tampilan dan identitas keislaman negara muslim”
Qardhawi menekankan dengan keras bahwa meluasnya  keikutsertaan kaum muslimin dalam perayaan tersebut dan sikap yang berlebihan di dalamnya, akan mengancam identitas keislaman dan menunjukkan sikap menggampangkan. Dan permasalahan yang muncul dalam tindakan semacam itu adalah menjauhkan dari manhaj wasathiyah (moderat) dalam Islam, yaitu : engkau menjaga identitas Anda sebagai muslim, dan berinteraksi pada yang lain dengan toleran dan memberikan hak-haknya, serta berpartisipasi dalam hal-hal maslahat umum. Inilah ajakan kami selama ini.

Qardhawi mengkhususkan hal tersebut di wilayah negara-negara muslim, terlebih pada negara yang tidak terdapat di dalamnya minoritas non muslim. Beliau melandaskan bahwa status asal dari makhluk  adalah beragam, dengan keragaman ini ternyata ada kekhususan-kekhususan yang harus kita jaga secara identitasnya. Dan Al-Quran juga telah menekankan hal tersebut dan surat Al-Kafirun dan Al-Fatihah.  “ Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.  Tetapi masalahnya justru ada pada sebagian besar orang Barat yang bertindak atas dasar “ bagi kami agama kami, dan tidak ada bagimu agama apapun “

Qardhawi mencontohkan pada kasus Al-Jazair, bahwasanya penjajahan berusaha untuk menguliti masyarakat di sana dari unsur kearaban dan bahasanya, juga menekan keislamannya. Akan tetapi ulama Islam cukup cerdas dalam menyikapinya, mereka mendirikan organisasi ulama Al-Jazair, lalu menghidupkan identitas keislamannya “

Beliau juga menambahkan contoh lain, pada negara-negara Islam lainnya yang pernah terjajah : “ negara itu bebas merdeka secara militer saja, tetapi peraturan perundangan dan kebiasaan barat masih saja mendominasi”. Dari titik tolak inilah – sebagaimana dikatakan Qardhawi- : Wajib bagi kita mengembakikan identitas kita dan menjaganya sehingga tidak punah dan terhapus.

Meskipun demikan, pada saat yang sama Qardhawi mengingatkan bahwa “ penjagaan kita atas identitas kesilaman, bukan berarti melarang toleransi dan mencari kesepahaman antara kita dengan kaum lainnya.  Sesungguhnya bahaya sejati adalah meniru barat secara membabi buta. Mereka ingin menjadikan kita sebagai pengekor, dan inilah yang sudah diingatkan oleh Rasulullah SAW : “ Sungguh engkau akan mengikuti tingkah laku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, hingga sekiranya mereka masuk lobang biawak engkau akan mengikutinya pula. Mereka bertanya : “Yahudi dan Nasrani ?”. rasulullah SAW menjawab : Benar.

Terakhir, Qardhawi menegaskan bahwa Islam tidak menginginkan kita kehilangan kepribadian kita dan menjadi pengekor saja. (HR Bukhori Muslim)

sumber : terjemah bebas dari situs qaradawi arabic

1 komentar:

  1. Jadi, apakah kita di indonesia tetap dibolehkan untuk sekedar mengucapkan selamat natal?

    BalasHapus

Comments system

Disqus Shortname