Rabu, 23 Desember 2009

Qardhawi dan Ikhwan ( Resensi Buku Ana wal Ikhwan Muslimun)

Siapa yang tidak mengenal sosok Dr. Yusuf Qardhawi ? ulama yang begitu luas ilmunya, yang senanatiasa mengorbankan jiwa dan raganya untuk menegakkan ajaran Islam. Beliau adalah ulama terpandang yang telah banyak melahirkan banyak karya bagi ummat ini.

Buku ini dibuka dengan catatan dari penerjemah (M. Lili Nur Aulia), yang memaparkan alasan tentang penulisan buku ini. Sejujurya, beliau tidak menginginkan ada tulisan tentang Biografi beliau. Berbicara mengenai Dr. Yusuf Q, tidak akan pernah lepas dari kehidupan Dakwahnya bersama Ikhwan. Kerendahan hati, dan ketinggian iman yang dimiliki Beliau, membuat beliau takut jika buku ini membuat beliau membaguskan diri sendiri (karena ditulis langsung oleh beliau), mengagungkan-agungkan atau menghiasi diri sendiri di mata pembacanya (Lihat Q.S. An-Najm : 32). Sebuah kutipan dari ahli hikmah diambil oleh Beliau yang begitu sarat makna “Apakah kejujuran yang buruk ? Yaitu pujian dari orang terhadap dirinya sedniri”.

Namun, berkat dorongan yang kuat oleh para Ikhwan, karena meganggap kisah beliau bisa memberikan inspirasi buat para penyeru dakwah untuk terus bergerak dan menghasilkan karya dan pertemuannya dengan tokoh Ikhwan Internasional lainnya, hingga membuat beliau menuliskan kisah beliau bersama Al ikhwan Al Muslimun. Kata-kata beliau begitu dalam ketika akhirnya menuliskan kisah beliau dalam buku ini

“Mahasuci Allah yang membolak-balikkan hati, tak lama setelah itu, Allah melapangkan hatiku untuk mulai menulis. Aku memulai penulisan ini dengan memohon kepada Allah, berdasarkan apa yang massih kuingat, sementara apa-apa yang tidak benar-benar kuingat atau ragu aku lebih memilih untuk tidak menceritakannya. Ini untuk menjaga amanah, agar tulisan ini bisa objektif sedapat mungkin. Bagaimana seseorang bisa bersikap netral terhadap dirinya sendiri ? benar-benat membutuhkan orang yang mampu mengalahkan hawa nafsunya. Sementara aku sama sekali tidak mengakui telah sampai pada posisi itu. Aku hanya berusaha untuk menyampaikan yang benar, jujur, dan berusaha seimbang walaupun bicara tentang diri sendiri”

Subhanallah….

Setelah mengupas sejarah singkat Ikhwanul Muslimin, buku ini kemudian menceritakan awal mula keterlibatan Beliau dalam Jama’ah ikhwan. Kisah indah forum Halaqoh beliau yang di bina langsung oleh ulama yang mengajar di sekolah agama, namanya Syaikh Al Bahi Al-Khuli. Syaikh ini mengumpulkan orang-orang terbaik di sekolah tersebut untuk berada dalam forum halaqoh/usrah. Pertemuan mereka berlangsung setiap hari senin sebelum fajar. Setelah sholat subuh berjama’ah mereka lalu menyemai iman dalam halaqah ruhiyah. Subhanallah… membaca bagian ini seperti mengoreksi setiap pertemuan-pertemuan ikhwan yang pernah saya jalani. Sudah sehatkah ? penuh nasihatkah ? Astaghfirullah…

Bab selanjutnya, berkisah tentang perseteruan Ikhwan dan partai besar di Mesir waktu itu, Al Wafd. Kisah ini mengingatkanku pada kisah-kisah ikhwah di Indonesia. Subhanallah…. Begitu indah dan penuh rintangan jalan dakwah ini.

Kemudian, tulisan ini dilanjutkan dengan kisah pengalaman berdakwah beliau. Inilah salah stu bagian yang begitu saya sukai, selain beberapa bagian lainnya. Kisah ketika beliau berdakwah di Kfar Syah, sedangkan waktu itu beliau sedang menikmati liburan musim panas di Thanta.

Waktu itu tepat ketika bulan Ramadhan, sehingga Beliau begitu sibuk mengisi materi di banyak tempat. Karena kecintaan beliau kepada masyarakat, para ikhwah dan keinginan yang besar untuk menyebar luaskan ilmu, kemudian beliau akhirnya bertekad berangkat ke Kafr Syah, yang cukup jauh dengan hanya membawa bekal 6,5 Qirsy. Namun, ketika selesai memberikan materi disana, beliau ingin segera kembali, meskipun masyarakat menahannya dan menyuruh menunggu hingga waktu berbuka, karena ada agenda rapat dengan para ikhwan di Shafat. Sayangnya, Ikhwan di Thanta menyerahkan ongkos transportasi kepada Ikhwan di Kafr Syah, begitu juga sebaliknya. Hingga ketika beliau hendak pula, karena sifat malu Beliau yang luar biasa akhirnya beliau tidak meminta ongkos transportasi. Subhanallah…

Sesampainya di Sahlah, beliau hendak mengunjungi kerabat Ikhwan lainnya, tetapi setelah mencari rumah ikhwan tersebut disekitar Masjid, Beliau tidak menemukannya. Akhirnya karena sudah maghrib beliau berbuka dengan air di Masjid tersebut. Selesai sholat, beliau bertemu dengan Ikhwan tersebut. Namun karena rasa malu Beliau yang luar biasa akhirnya beliau tidak memberitahukan kalau belum makan semenjak puasa. Subhanallah… Bahkan, sifat pemalu ini, yang telah tumbuh semenjak kecil, membuat beliau harus pulang dengan berjalan sejauh 11 km. Saya merinding membaca kisah ini. Subhanallah… betapa ketinggian Ruhiyah Beliau telah menerobos semua kelelahan, keletihan, dan nafsu yang mendera manusia. Akhirnya, sepanjang perjalanan, beliau memberhentikan mobil yang lewat di jalanan, tidak lama kemudian beliau mendapatkan mobilnya, dan akhirnya kembali ke Shafat.

Lalu apa yang dilakukan beliau setelah tiba ?

Karena janji akan ada Rapat dengan para ikhwan, setibanya beliau di Shafat beliau langsung terlibat dalam aktivitas rapat para ikhwan. Tanpa mendahulukan makan. Subhanallah.. kecintaan beliau terhaap dakwah telah melewati semua puncak kegelisahan emosi.

ihad….

Sebuah kata yang menakutkan kah buat kita ?

Jihad.. ya Jihad…

Jalan juang yang meberikan kesempatan kepada orang-orang yang beriman untuk mendapatkan syahid. Jangan ditanya balasannya apa ? Syurga yang dialiri sungai-sungai yang indah, bidadari bermata bening, kepingan-kepingan kebahagiaan yang akan senantiasa mewarnai setiap jiwa orang-orang yang meninggal karena membela agama Allah. Subhanallah…

Sejenak, kita tengok kisah para Ikhwan yang mengorbankan dirinya ketika melakukan perlawanan terhadap kaum zionis di Palestina. Cerita yang menohok pertahanan keimanan kita, sebab ia mengganggu, mengganggu kenyamanan hidup yang selama ini kita miliki.

Dengan manis, Dr. Yusuf Qardhawi mengisahkan seorang pemuda bernama Abdul Wahhab. Kisah jihadnya yang menginspirasi. Yang akan membawa angn kita kepada makna iman di dada, takwa di jiwa, dal letupan jihad fisabilillah di raga.. Subhanallah..

Menjelang keberangkatan jihadnya. Ia mengalami dua kendala besar, kendala yang kemudian menjadikan ia seorang mujahid yang akan di kenang, kendala yang akan membuat cerita ini menjadi lebih menusuk, kendala yang akan mengusik keeping-keping hati para pemuda yang mengaku mencintai-Nya.

Pertama : Beliau adalah anak dari seorang Janda, sebagai anak tunggal yang hidup hanya dengan ibunya, tentu beliau akan mendapatkan kendala perizinan dari sang Ibu. Jelas itu berat, secara manusiawi ibu mana yang akan rela membiarkan anaknya meninggal dalam perang, ibu mana yang akan rela anak tunggalnya menjadi korban dalam perang. Tentu tidak…!!! Sulit kita temukan sosok Ibu seperti ini.

Berkat bantuan para Ikhwan, termasuk Dr. Yusuf Qardhawi. Mereka mendatangi ibunya. Sembari membawa sejuta cerita cahaya dari orang-orang yang telah berjidah sebelumnya. Bagaimana kisah para syuhada yang meninggal dalam keadaan terbaik, dalam ridho Allah swt, menjelaskan kepada ibunya, bahwa umur seseorang tidak ditentukan dengan kondisi tertentu, baik itu perang maupun dalam kondisi yang aman. Ajal tepatlah ajal, ia akan selalu datang.

Sang ibu akhirnya menyetujui niat Jihad Abdul Wahhab, sembari mengatakan “Jika ini sudah menjadi keinginan Abdul Wahhab, maka aku takkan mungkin menghalanginya. Saya serahkan masalah ini kepada Allah. Saya berdo’a kepada Allah agar ia menolongnya dan para Ikhwan di medan jihad, kemudian mengembalikan mereka selamat dengan membawa kemenangan” Subhanallah… Indah… Luar Biasa…

Namun kendala kedua menunggu : Salah satu syarat keikutsertaan ikhwan berjihad adalah tidak sedang menjadi siswa di salah satu SMA. Itu keputusan Maktab Irsyad Ikhwanul Muslimin. Mereka bisa terlibat dalam jihad, apabila mendapat ijin dari Mursyid ‘Am saat itu, Syaikh Hasan Al banna.

Alhamdulillah, berkat bantuan para ikhwan, mereka berangkat ke Kairo untuk mendapat ijin dari Mursyid ‘Am. Dan akhirnya Abdul Wahhab di Ijinkan untuk berjihad.. Allah Akbar..

Berangkat dengan semangat pemuda… Berjiwa Ksatria..  Bermental baja.. dan Menyimpan kekuatan Ruhiyah yang tinggi… Abdul Wahhab berjihad dengan penuh kesungguhan.

Hingga akhirnya, bersama 2 ikhwan lainnya, mereka terdesak mundur ketika menyerang markas Israel. Dan akhirnya terjebak di Markas tersebut. Namun mereka tak ingin meninggal tanpa memberikan pengaruh yang besar bagi militer Israel. Akhirnya, mereka mengorbankan diri mereka dengan meledakkan diri mereka bersama gudang persenjataan Israel tersebut..

Allah Akbar…

Di usia muda… ia menjemput syahidnya bersama para ikhwan lainnya..

Di usia yang sangat muda saudaraku ?

Tempat terindah di syurga-Nya telah disiapkan untuk-Nya.. Kebahagiaan yang abadi telah ia reguk saudaraku… Masya Allah…

Dan makna Q.S. At-Taubah : 111 “Dengan jiwa dan harta kalian bahwa kalian akan memperoleh syurga” telah diajarkan kepada kita..
Bukan hanya kata-kata, bukan hanya tindakan nyata, namun nyawapun ia sertakan dalam keteladanan ini..
Masya Allah..
Salam rindu buat mereka, orang-orang yang punya segunung Keistiqomahan.. Yang tak kenal lelah berjuang di Jalan ini.

CATATAN : resensi ini diambil dari situs ALMUHANDIS milik akh Ario Muhammad.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Comments system

Disqus Shortname