Senin, 09 November 2015

Qaradhawi : Tidak Ada gunanya Dekatkan Sunni Syiah

KIBLAT.NET, Manama – Ketua persatuan ulama muslim dunia, International Union of Muslim Scholars (IUMS), Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi menegaskan tidak ada gunanya mendekatnya antara mazhab-mazhab Islam dan Syiah. Perbedaan keduanya bukan terjadi di cabang namun di fondasi agama.

“Tidak ada gunanya mendekatkan antara mazhab Islam dan Syiah,” tegasnya dalam diskusi yang digelar murid-muridnya dan dihadiri harian Bahrain, Al-Wasat, Kamis (05/11).

Syaikh kelahiran Mesir ini menegaskan bahwa seluruh hidupnya digunakan untuk menyeru pendekatan antara mazhab. Harapannya, segala perbedaan dan perselisihan terkikis antara umat Islam.

“Namun tidak ada gunanya melakukan taqrib kecuali kembali kepada Sunnah,” terangnya seperti dimuat Al-Wasat dalam websitenya, alwasatnews.com.

Dalam kesempatan itu, Syaikh Qardhawi juga menegaskan bahwa perbedaan antara Syiah dan Sunnah adalah perbedaan usul (pokok agama), bukan pada cabangnya.

Perlu diketahui, Syaikh Qardhawi sangat getol melakukan pendekatan antara mazhab, termasuk di dalamnya Syiah. Namun, seiring meletusnya konflik Suriah dan menyaksikan sendiri kekejaman Syiah, doktor fiqih ini menarik semua pernyataan yang memuji agama sesat tersebut.

Ia juga mengakui bahwa ulama-ulama asal Saudi lebih berpandangan luas dibanding dirinya menyikapi kelompok Syiah Hizbullah Lebanon.Beliau pernah memuji dan menyanjung-nyanjung milisi bentukan Iran itu ketika konflik Lebanon-Israel.

Sumber: alwasatnews.com
Penulis: Hunef Ibrahim / kiblat.net

Rabu, 04 Februari 2015

Kecam Kebiadaban ISIS, Syaikh Qardhawi: Perilaku Mereka Jauh Dari Islam

Syaikh DR. Yusuf Qardhawi, ketua Persatuan Ulama Islam Dunia menyampaikan penyesalannya atas eksekusi mati yang dilakukan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) terhadap pilot Jordania Moadz al Kasasbeh dengan cara dibakar hidup-hidup.

Dalam pernyataannya pada hari Rabu (4/1/2015) Syaikh Qardhawi menegaskan bahwa membunuh tawanan perang dengan cara dibakar seperti yang dilakukan ISIS bertentangan dengan hukum Islam, bercermin dari hadits Rasulullah: "Jika kalian membunuh maka lakukanlah dengan cara yang baik".

Menurut Syaikh Qardhawi, islam menganggap tawanan perang sebagai kelompok yang lemah, dan berhak mendapatkan kasih sayang dan perlakuan yang baik seperti para fakir miskin dan anak yatim. Islam mewajibkan memperlakukan mereka dengan perlakuan yang baik dan manusiawi. Menjaga kehormatan, hak dan harga diri mereka.

Syaikh Qardhawi melanjutkan, kadang kita menjumpai kesalahan yang dilakukan oleh sebagian kelompok yang mengaku muslim dan memperjuangkan islam, tetapi perilaku mereka justru tidak islami. Kesalahan memahami ajaran islam sering menjadi masalah dan berdampak buruk terhadap kehidupan sosial, ekonomi atau politik. Fenomena seperti ini sering kita temukan di sebagian tempat atau negara yang kondisi sosial dan ekonominya buruk. Inilah yang menjadi sebab kelompok radikal seperti ISIS tumbuh subur dan berkembang.

Dalam kasus Moadz al Kasasbeh, Syaikh Qardhawi tidak melihat manfaat bagi islam dan umat islam dan sama sekali tidak mencerminkan ajaran islam. Islam menolak memperlakukan tawanan perang dengan kasar dan tidak manusiawi. Kelompok yang melakukan eksekusi dengan cara membakar hidup-hidup seperti yang dilakukan ISIS sejatinya tidak paham akan realitas dan efek negatif dari prilaku mereka, juga tidak paham hukum islam itu sendiri.

Orang lain akan kecewa dan aneh dengan prilaku kelompok seperti itu, seolah-olah islam dan ajarannya sangat menakutkan dan penuh kekejian. Islam digambarkan sebagai suatu ajaran yang ingin membinasakan semua orang yang berseberangan dengannya, tidak sampai disitu, ketika islam berhasil mengalahkan musuhnya maka islam akan memperlakukan musuh tersebut dengan kejam tanpa kasih sayang, seperti yang dilakukan ISIS terhadap tawanan mereka.

Syaikh Qardhawi sebagai ketua persatuan ulama islam dunia menegaskan, kami menolak kebiadaban yang dilakukan ISIS, mereka menggambarkan islam jauh dari sesungguhnya, seakan-akan islam tidak mengenal kasih sayang terhadap kelompok lain, namun kami juga ingin mengatakan kepada dunia internasional dan semua pihak yang memiliki kewenangan seperti Dewan Keamanan atau PBB bahwa ISIS dan kebiadabannya tersebut juga buah dari ketidak adilan dunia internasional.

Mengapa ISIS bisa tiba-tiba muncul? Dari mana mereka mendapatkan dana dan senjata untuk berperang? 
Kenapa dengan begitu mudah para tentara ISIS sampai ke Suriah untuk ikut berperang? Perkembangan dalam tubuh ISIS seperti sekarang agak sulit dipercaya jika tidak ada pihak tertentu yang bermain.

Syaikh Qardhawi juga menyampaikan kepada masyarakat internasional, kalian melihat dengan jelas bagaimana masyarakat sipil Suriah dibunuh dengan peralatan militer yang begitu canggih, dengan pesawat tempur, kapal perang dengan teknologi modern, tank baja yang siap meluluh lantakkan musuh, yang menyebabkan masyarakat Suriah kehilangan segalanya, mulai dari nyawa, tempat tinggal, masa depan sampai kehormatan. Tetapi sangat disayangkan masyarakat internasional menyikapi itu semua dengan diam, malah negara dunia bekerjasama dengan pemerintah yang seharusnya melindungi rakyatnya, inilah penyebab mendasar timbulnya ISIS dan kelompok radikal lainnya.

Syaikh Qardhawi menutup pernyataannya dengan mengatakan, jika negara muslim dan dunia internasional serius ingin menyelesaikan permasalah ISIS maka jangan hanya melihat fenomena yang timbul dipermukaan tanpa menyelesaikan sebab fenomenan tersebut. Daripada menghabiskan waktu dan energi untuk berdebat seharusnya dunia segera menyelasaikan sebab munculnya ISIS, dengan mengembalikan keamanan dan kemerdekaan rakyat Suriah sehingga mereka kembali kepada hati nurani dan ajaran islam sesungguhnya.(Hasmi Bakhtiar/fj-p.com)

sumber : http://www.pkspiyungan.org/2015/02/kecam-kebiadaban-isis-syaikh-qardhawi.html

Kamis, 25 Desember 2014

Syaikh Qaradawi Bantah Penangkapan Dirinya oleh Interpol

dakwatuna.com – Qatar. Ketua Persatuan Ulama Muslim Sedunia, Syaikh Yusuf Al-Qaradawi, membantah isu yang beredar bahwa dirinya ditangkap oleh interpol dan diserahkan kepada pihak berwajib di Mesir, sebagaimana diberitakan Islam Memo (24/12/2014).
Kepala kantornya di Doha menyatakan bahwa isu tersebut gosip bohong yang sengaja disebarkan oleh media pendukung kekuasaan kudeta di Mesir yang tidak profesional dan bekerja sesuai pesanan.
Syaikh Qaradawi disebutkan masih menjalankan aktifitas ke kantornya dan bahkan Selasa kemarin (23/12/2014) menjadi imam shalat jenazah almarhum Syaikh Jasim bin Tsani Al Tsani, cucu pendiri negara Qatar, di Masjid Syaikh Jasim.
Bantahan tersebut juga dikuatkan oleh mantan kepala kantor Syaikh Qaradawi yang sekarang dikenal juga menjadi da’i, Syaikh Isham Talimah, di akun sosial mediannya.
Syaikh Talimah menegaskan bahwa Syaikh Qaradawi telah menjadi warga negara Qatar sejak tahun 1966 dan isu yang menyebutkan dirinya diserahkan ke kepolisian Mesir hanyalah gosip murahan. (islammemo/rem/dakwatuna)


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/12/25/61911/syaikh-qaradawi-bantah-penangkapan-dirinya-oleh-interpol/#ixzz3MxB97mrG 

Senin, 17 November 2014

Uni Emirat memasukkan Qardhawi & Organisasinya dalam Daftar Teroris

 ABU DHABI: Uni Emirat Arab, yang termasuk dalam koalisi pimpinan AS melawan mujahidin, Sabtu (15/11) mengeluarkan daftar 83 organisasi Islam yang diklasifikasikan sebagai "kelompok teroris," lebih dari seperempat darinya yang aktif dalam perang di Suriah.

Daftar itu, disetujui oleh Kabinet dan diterbitkan pada kantor berita WAM, mirip dengan pengumuman yang dibuat oleh Saudi pada bulan Maret. Di antara yang masuk dalam daftar blacklist, Al-Qaeda dan kelompok yang memisahkan diri dari Al-Qaeda, IS (ISIS), serta Ikhwanul Muslimin.

UAE telah memenjarakan puluhan warga UAE dan Mesir karena membentuk sel-sel Ikhwanul Muslimin, organisasi terlarang di Mesir dan Arab Saudi, yang menuduh gerakan itu berusaha menggulingkan monarki Teluk.

UAE, Sabtu (15/11) memasukkan organisasi International Union of Muslim Scholars yang berbasis di Qatar, dan dipimpin oleh ulama spiritual Syaikh Yusuf Al-Qaradawi ke dalam daftar teroris.
Dari dalam negara Teluk itu sendiri, ada nama Organisasi Al-Islah (reformasi), puluhan anggotanya telah dipenjarakan. Syiah Hizbullah di negara-negara Teluk dan brigade dengan nama yang sama di Irak juga termasuk dalam daftar tersebut, tapi tidak untuk Hizbullah di Lebanon.Kelompok-kelompok Islam di Libya, Tunisia, Mali, Pakistan, Nigeria Boko Haram serta Taliban Afghanistan juga masuk dalam daftar tersebut. .Lebih dari dua lusin kelompok yang tengah berperang dalam perang di Suriah turut dimasukkan dalam daftar tersebut.

Mereka termasuk milisi Abu Fadl al-Abbas, kelompok paramiliter Syiah yang berperang bersama pasukan rezim, serta beberapa anggota koalisi Jabhah Islamiyyah, seperti Ahrar Syam, dan Brigade tawhid dan Haqq. Lima belas Islamis dituduh bergabung dan membiayai Jabhah Nusrah, dan Ahrar Syam, diadili di UAE pada bulan September. UAE, bersama dengan sesama negara-negara Arab, Bahrain, Yordania, Qatar dan Arab Saudi, telah mengambil bagian dalam serangan udara pimpinan AS terhadap mujahidin di Suriah.

Daftar itu juga termasuk Federasi Organisasi Islam di Eropa, serta asosiasi Muslim di Inggris dan negara-negara Eropa lainnya. Pemerintah UAE telah menindak perbedaan pendapat dan seruan reformasi demokratis, terutama ditargetkan telah Islamis.Pada bulan Agustus, undang-undang anti-terorisme UEA ketat dibentuk dalam upaya untuk membasmi “pembiayaan aksi teror”, penyanderaan, perdagangan manusia, dan pencucian uang. (daily/muqawamah.com)

Rabu, 14 November 2012

Air Mata Seorang Yusuf Qaradhawi

“Saya takut bila pujian-pujian itu menghilangkan dua pertiga pahala dan hanya tersisa sepertiganya… Saya lebih tahu kekurangan diri saya, daripada orang lain yang menilai saya.”


Itulah yang diucapkan DR Yusuf Al-Qaradhawi, dengan suara terisak sambil meneteskan air mata. Apa yang membuat ulama terkenal dunia ini menangis? Ternyata ia menangis karena dinisbatkan sebagai “Imam” oleh sekitar 100 tokoh Muslim dalam sebuah pertemuan antara Qaradhawi dengan para sahabat dan muridnya dari 30 negara, yang berlangsung di Qatar, akhir pekan kemarin, sebagai penghargaan atas berbagai ijtihad fiqihnya serta pengabdiannya kepada Islam dan kaum Muslimin selama ini.


Tangis Qaradhawi bukan tangis bahagia karena ia diberi gelar kehormatan sebagai “Imam” oleh rekan sejawat dan murid-muridnya-meskipun tanpa diberi gelar kehormatan “Imam” pun, eksistensi Qaradhawi sebagai ulama besar sudah diakui dunia-tapi air mata Qaradhawi adalah air mata kekhawatiran dan  tanda ketawadhuannya sebagai hamba Allah, yang hanya menginginkan keridhoan dan pahala dari Allah semata atas segala yang telah dilakukannya di dunia.

Sikap rendah hati seorang Qaradhawi tercermin saat dengan halus ia menolak gelar “Imam” itu. Ia mengatakan bahwa ia tidak mengharapkan pujian, apalagi penghargaan. Karena pujian dan sanjungan bisa menghapus pahala amal seseorang di hari akhirat, dan menjadi penghalang dari pahala amalan yang dilakukan untuk mencari ridho Illahi.


Beliau mengutip sabda Rasulullah saw, “Tak seorang pejuang yang berjuang di jalan Allah, lalu ia memperoleh ghanimah, kecuali akan dipercepat dua pertiga pahalanya di akhirat, sisanya satu pertiga. Tapi bila dia tidak mendapatkan ghanimah, pahalanya sempurna. ” (HR Bukhari).


Qaradhawi mengatakan, sebutan ”Imam” untuk dirinya tidaklah tepat. “Saya demi Allah bukanlah pemimpin dan bukan seorang imam. Saya hanya seorang prajurit Islam, seorang murid dan akan tetap sebagai murid yang akan terus menuntut ilmu sampai detik terakhir usia saya,” ucap Qaradhawi.

Dengan segala kerendahan hatinya, ulama besar itu mengatakan bahwa dirinya masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Bahkan beliau minta maaf kepada siapa saja yang merasa sakit hati karena perkataan maupun perbuatannya.

“Manusia, bisa salah dan benar,” katanya sembari menegaskan kembali cita-cita utamanya untuk mati syahid di jalan Allah swt.

Subhanallah… betapa mulianya sosok seorang Yusuf Qaradhawi. Beliaulah contoh peribahasa “Ibarat padi, semakin berisi, semakin menunduk.”  Orang yang makin banyak ilmunya, makin makin pintar, makin kaya dan makin terkenal, akan makin rendah hati dan bijaksana. Bukannya malah sombong dan membanggakan dirinya.

 Pernahkah kita menangis karena khawatir seperti Al-Qaradhawi ketika ada orang memuji atau memberi kita gelar kehormatan? Yang sering terjadi, kita menangis karena gembira atau bahagia , karena kita merasa banyak orang yang menghormati dan menyenangi kita, hingga kita dipuji, disanjung dan diberi gelar kehormatan.

Ah ….kerendahan hati seorang ulama besar seperti Qaradhawi ibarat setetes embun di padang gersang kehidupan dimana makin banyak orang yang lebih mengejar dunia, mengejar gelar kehormatan, mengejar kekayaan, tanpa menyadari bahwa semuanya itu kelak harus dipertanggunjawabkan di hadapan Allah swt.

 Selayaknya para ulama lainnya mencontoh kepribadian DR Yusuf  Al-Qaradhawi. Yang konsisten memperjuangkan kepentingan kaum Muslimin, menegakkan ajaran Islam, berjuang di jalan Allah swt tanpa mengharapkan pujian dan gelar kehormatan. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kesehatan dan melimpahkan kekuatan serta rahmat untuk beliau. Karena umat Islam masih membutuhkan tuntunan dan pengarahan dari ulama seperti beliau. aamiin.

Sumber : http://fisan.wordpress.com/2008/04/02/air-mata-seorang-yusuf-qaradhawi/

Resensi Buku Fiqh Negara Dr. Yusuf Qardhawi

Judul Asli:  Min Fiqh ad-Daulah fil Islam Terjemahan: Fiqih Negara Penulis : Dr. Yusuf Qardhawy Penerjemah: Syafril Halim Penerbit...